Yuk Lihat 5 Planet Tata Surya Sepanjang Maret 2016
Merkurius Hilang Dalam Silau Cahaya FajarPada minggu-minggu terakhir Januari 2016 hingga dua minggu pertama Februari 2016, kita sempat melihat Merkurius bergabung dengan empat planet pagi lainnya--Venus, Saturnus, Mars dan Jupiter--yang membuat pertama kalinya lima planet Tata Surya muncul berbarengan sejak terakhir kali tahun 2005.Pada Maret 2016, Merkurius akan terbit sebelum fajar tiba di awal-awal bulan ini, tapi mungkin ia akan berkedudukan terlalu dekat dengan Matahari sehingga kecerlangannya kalah dengan silau Matahari. Planet terdekat Matahari ini akan berayun ke "belakang" Matahari pada tanggal 23 Maret, untuk transisi dari langit pagi ke langit malam. Kesempatan untuk melihat Merkurius pada Maret ini memang kecil, namun teleskop akan membantu Anda menemukannya. Sekitar dua minggu setelah Merkurius berpindah ke langit malam pada akhir Maret, Anda dapat menemukan Merkurius di langit Barat saat Matahari terbenam mulai akhir minggu pertama bulan April 2016. Stay tuned! Venus Paling Terang di Langit FajarTidak peduli di mana Anda berada di Bumi, pada Maret 2016 ini Planet Venus akan tetap dengan mudah ditemukan di langit Timur saat fajar. Venus adalah benda paling terang ketiga di langit setelah Matahari dan Bulan. Dengan cahayanya yang tidak berkelap-kelip, menemukan Venus sebelum olahraga pagi akan sangat mudah.Venus akan terbit sekitar dua jam sebelum fajar tiba, namun pada akhir Maret 2016 ini, Venus akan terbit sekitar satu jam sebelum Matahari terbit. Jika diamati dengan mata telanjang, Venus hanya akan nampak bagai bintang kuning super-terang, lebih terang dari bintang-bintang sungguhan di sekitarnya. Untuk melihatnya nampak lebih besar, Anda dapat menggunakan teleskop. Mars Muncul dari Tengah Malam Hingga SubuhMars memang tidak seterang Venus. Namun, Mars memiliki keunikan, yakni cahayanya kemerahan. Dan pada Maret 2016 hingga beberapa bulan ke depan, cahaya Mars akan semakin terang mendekati oposisinya.Mars terbit di Timur menjelang tengah malam, tepatnya pada pukul 23:00 waktu lokal daerah Anda. Ia akan bergerak semu ke Barat hingga menjelang Matahari terbit. Cahayanya yang kemerahan dan tidak berkelap-kelip akan memudahkan Anda menemukannya di langit. Namun begitu, Mars juga tidak akan nampak besar. Seperti Venus, Mars hanya nampak bagai bintang kecil di langit karena jaraknya yang jauh dari Bumi. Anda bisa menggunakan teleskop untuk melihat Planet Mars lebih dekat. Mars akan semakin terang pada bulan ke bulan, sampai Planet Merah ini akan memuncak kecerlangannya pada bulan Mei 2016. Percaya atau tidak, kecelangan Mars akan menyamai kecerlangan Jupiter di langit Bumi! Jupiter Muncul Sepanjang Malam
Jupiter adalah satu-satunya planet di Tata Surya yang bakal muncul segera setelah Matahari terbenam hingga menjelang Matahari terbit keesokan harinya sepanjang Maret 2016. Jupiter juga akan mencapai oposisi pada tanggal 8 Maret 2016.
Ketika oposisi, Jupiter akan berada satu garis lurus terhadap Matahari dan Bumi, membuatnya terbit tepat saat Matahari terbenam lalu terbenam tepat saat Matahari terbit. Pada oposisi pula, Jupiter akan nampak lebih terang karena berjarak sedikit lebih dekat ke Bumi (sekitar 660 juta km).
Oposisi Jupiter ini terjadi kurang dari satu hari sebelum fase Bulan Baru, sehingga membuat langit cukup gelap sehingga nyaman untuk pengamatan. Tapi dalam pandangan mata telanjang, Jupiter tidak akan nampak besar, ia hanya akan nampak bagai bintang terang yang cahayanya konstan alias tidak berkelap-kelip. Untuk melihat kabut atau awan di Jupiter serta empat satelit alami terbesarnya (Io, Ganymede, Europa dan Callisto), Anda butuh teleskop.
Saturnus Ditemani Bintang Antares
Ya, sepanjang Maret 2016, Planet Saturnus akan bersinar di dekat bintang Antares, bintang paling terang di rasi bintang Scorpius. Planet bercincin ini akan terbit sekitar pukul 01:00 dinihari waktu setempat. Pada akhir Maret 2016, Saturnus akan terbit sekitar sebelum tengah malam waktu setempat daerah Anda.
Dari kelima planet yang terlihat di langit, Saturnus adalah yang paling redup. Namun tetap terlihat dengan mata telanjang. Jika diamati dengan mata, Anda tidak akan melihat cincin Saturnus, Anda hanya akan melihat Saturnus yang muncul bagai bintang kecil kuning keemasan yang cahayanya tidak berkelap-kelip. Untuk melihat cincin Saturnus yang megah, Anda harus menggunakan teleskop.
Mengapa Kita Bisa Melihat Planet-planet Ini?
Mungkin Anda bertanya, kenapa kita melihat planet-planet padahal mereka tidak memancarkan cahayanya sendiri? Jawabannya adalah, sebab mereka mengorbit Matahari dan memantulkan cahayanya. Proses yang sama seperti Bulan, ia tidak memancarkan cahaya sendiri alias memantulkan cahaya Matahari yang diterimanya sehingga kita mampu melihatnya di langit.
Namun jangan berharap Anda akan melihat kenampakan planet-planet Tata Surya dalam ukuran besar yang sebenarnya. Karena Tata Surya yang begitu luas, jarak antar planet sangaaaaaaaaaaaaaaaaatt berjauhan. Sehingga Anda hanya akan melihat kelima planet Tata Surya di atas bagai melihat bintang namun cahayanya tidak berkelap-kelip alias konstan. Jadi, sudah siap untuk melihat planet-planet ini? Selamat berburu planet Tata Surya!
Untuk memudahkan Anda menemukan planet-planet ini, Anda bisa mengunduh aplikasi peta langit yang cocok untuk gawai Anda, klik di sini: infoastronomy.org/unduh
| ||||||
|
Posted: 01 Mar 2016 09:27 PM PST
Mata kita tidak boleh menatap langsung ke Matahari karena silau cahaya Matahari dapat merebus retina mata. Sementara kamera tidak memiliki retina, sehingga tidak akan rusak jika terpapar sinar Matahari. Namun, yang rusak adalah sensor kamera Anda. Jadi bagaimana cara Anda agar bisa mengambil foto Gerhana Matahari dengan aman tanpa merusak mata dan tanpa merusak sensor kamera? Berikut panduan praktis dari kami! Sebelum mengarahkan ke arah Matahari, pastikan kamera Anda sudah dilapisi filter Matahari. Sebab selain nantinya hasil foto akan lebih bagus dan tajam, filter Matahari juga akan melindungi sensor kamera Anda dari kerusakan. Berhati-hatilah saat Anda memegang kamera untuk mengarahkannya kehingga Matahari, jangan sampai mata Anda ikut-ikutan menatap Matahari, bahkan saat gerhana sedang berlangsung. Gunakan kacamata Matahari Anda untuk melindungi mata. Jika Anda ingin mendapatkan foto yang bagus dan baik saat gerhana Matahari, sebuah ide yang cemerlang jik Anda menaruh kamera pada tripod. Dengan adanya tripod, hasil foto tidak goyang dan Anda bisa mengarahkannya ke arah Timur saat puncak Gerhana Matahari Total maupun Parsial 9 Maret 2016. Anda bisa mendapatkan foto gerhana Matahari yang menawan jika Anda menggunakan optical zoom 12x, tapi sayangnya fitur seperti ini tidak akan Anda temukan pada kamera smartphone. Jika tidak menggunakan optical zoom 12x, piringan Matahari yang bakal Anda potret akan sangat kecil. Nah, itulah tips memotret Gerhana Matahari dari kami. Anda bisa unduh ebook panduan dan informasi Gerhana Matahari Total 9 Maret 2016 untuk mengetahui kapan, jam berapa dan berapa durasi gerhana Matahari di daerah Anda, klik di sini: infoastronomy.org/gerhana-2016 | ||||||
|
Posted: 01 Mar 2016 08:34 PM PST
Mereka menghabiskan lebih dari dua jam perjalanan pulang setelah undock dari ISS pada pukul 08:02 WIB pagi tadi. Mereka juga telah melewati fase deorbit selama 4 menit 49 detik pada pukul 10:32 WIB. Ketiga antariksawan yang baru pulang ini, dua di antaranya telah menghabiskan 340 hari di ISS, yakni Scott Kelly dan Mikhail Kornienko. Namun, ketiganya akan langsung ikut tes dan pemulihan massa otot segera setelah mereka mendarat ini. Scott Kelly akan melakukan tes fungsional otot dan tulang di Johnson Space Center NASA, tes ini juga akan meneliti bagaimana respon tubuh manusia setelah tinggal di gravitasi mikro untuk waktu yang lama. Sementara Mikhail Kornienko dan Sergey Volkov akan menuju Moskow, Rusia untuk tes yang hampir sama. Memahami bagaimana pemulihan seorang astronot setelah menjalani misi luar angkasa yang sangat lama ini adalah bagian penting dalam perencanaan untuk misi ke luar angkasa berikutnya: Planet Mars. Sementara itu, kepulangan Scott Kelly dan dua kosmonot Rusia ini menyisakan anggota misi Ekspedisi 47, yakni Komandan Timothy Kopra dari NASA, Yuri Malenchenko dari Roscosmos (Rusia), dan Timothy Peake dari ESA (European Space Agency). Mereka akan melanjutkan penelitian dan pemeliharaan ISS hingga tiga astronot baru akan meluncur pada 18 Maret 2016, yakni astronot NASA Jeff Williams dan dua kosmonot Rusia Oleg Skriprochka dan Alexey Ovchinin. Welcome home, astronauts! | ||||||
|
Posted: 01 Mar 2016 07:07 PM PST
Yang jelas, Indonesia adalah tuan rumahnya! Jalur lintasan Gerhana Matahari Total amat sangat panjang. Jalur totalitas Gerhana 2016 ini membentang dari Samudra India hingga utara Kepulauan Hawaii, Amerika Serikat. Jalur gerhana ini selebar 155-160 kilometer dan terentang sejauh 1.200-1.300 kilometer. Uniknya, hanya wilayah Indonesia yang dilintasi jalur total, tepatnya ada 12 provinsi di Indonesia. Provinsi-provinsi itu adalah Sumatera Barat, Bengkulu, Jambi, Sumatera Selatan, dan Bangka Belitung. Selain itu, semua provinsi di Kalimantan (kecuali Kalimantan Utara), Sulawesi Barat, Sulawesi Tengah, dan Maluku Utara juga dilintasi. Namun, tidak semua daerah di provinsi itu dilintasi jalur totalitas gerhana.
Semetara itu, untuk daerah-daerah yang dilintasi dari 12 provinsi di atas adalah, Palembang (dengan durasi gerhana 1 menit 52 detik), Belitung (2 menit 10 detik), Balikpapan (1 menit 9 detik), Luwuk (2 menit 50 detik), Sampit (2 menit 8 detik), Palu (2 menit 4 detik), Ternate (2 menit 39 detik), Bangka (2 menit 8 detik), Palangkaraya (2 menit 29 detik), Poso (2 menit 40 detik), serta Halmahera (1 menit 36 detik).
Apa Bedanya dengan Gerhana 1983?
Jelas berbeda. Mulai dari beda generasi pengamat, jalur lintasan gerhana total pun berbeda. Walau begitu, Gerhana 1983 juga cukup istimewa, peristiwa Gerhana Matahari Total yang terjadi pada 11 Juni 1983 termasuk istimewa karena termasuk gerhana terlama, yakni lebih dari 5 menit. Berbeda dengan Gerhana 2016 yang paling lama 3 menit.
Pada Gerhana 1983, jalur lintasan Gerhana Matahari Total melalui Pulau Jawa, Sulawesi, Kepulauan Aru hingga Papua bagian Selatan. Sayangnya, ada yang mengganjal pada Gerhana 1983, yakni pelarangan masyarakat oleh pemerintah untuk melihat gerhana.
Tahun 1983 adalah era informasi satu arah. Pemerintah melalui Deppen dengan gencar mensosialisasikan bagaimana cara menghadapi Gerhana Matahari Total. Masyarakat diimbau untuk tidak melihat Gerhana Matahari secara langsung karena dapat mengakibatkan kebutaan.
Bumbu mitos Batara Kala yang makan Matahari pun ikut diembuskan untuk menambah kesan betapa seramnya peristiwa Gerhana Matahari Total ini. Suara dari para ahli astronomi untuk berpikir logis dan realistis dalam menyikapi peristiwa ini kala itu tentu saja kalah gaungnya dari suara pemerintah. Para ahli dan turis dari mancanegara berbondong-bondong datang ke Indonesia untuk menjadi saksi peristiwa ini, tapi rakyat sendiri malah disuruh ngumpet di rumah.
Jangan Sampai "Hari Pembodohan Nasional" TerulangCelakanya, bagian ini tidak memiliki reseptor rasa sakit. Kita tidak akan merasa apa-apa sampai jaringan retina mata secara harafiah “dimasak” oleh energi Matahari. Akibatnya jelas, mata akan mengalami kerusakan permanen. Untuk bisa menatap Matahari secara langsung, kita harus menyingkirkan setidaknya 99,9968% dari energi yang diterima dari Matahari. Angka ini (terutama pada dua digit terakhir itu) jelas bukan angka mistis yang turun dari langit. Besaran itu didapat dari hasil pengukuran yang akurat terhadap energi yang dipancarkan Matahari berbanding yang mampu diterima oleh organ retina mata tanpa merusaknya.
Ini bisa diperoleh lewat filter khusus untuk pengamatan Matahari, yang hanya menyalurkan setidaknya 0,0032% cahaya. Cara-cara semacam melihat melalui film, pita magnetik, CD, gelas buram, melihat dalam air di baskok dan sebagainya itu sebenarnya masih belum cukup aman untuk melindungi retina dari kerusakan. Cahaya Matahari sama sekali tidak diredam dengan hal-hal tersebut.
Tapi itu bukan berarti kita harus mengurung diri dalam rumah saat terjadi gerhana. Berada diluar rumah pada saat Gerhana Matahari sama amannya dengan berada di luar rumah pada hari-hari biasa, sepanjang kita tidak menatap langsung ke arah Matahari. Namun pada saat Matahari berada dalam fase gerhana total, adalah aman untuk menatap Matahari secara langsung (ingat, hanya pada saat fase total!).
Saat fase gerhana total terjadi, langit akan terasa gelap bagaikan malam hari. Hewan-hewan siang juga bersiap untuk tidur, ayam pun berkokok, dan suara jangkrik mulai bersahut-sahutan. Bintang-bintang juga akan terlihat saat fase gerhana total.
Penjelasan ilmiahnya, karena walaupun ukuran (diameter) Bulan 400 kali lebih kecil dari Matahari, letaknya juga 400 kali lebih dekat. Dengan demikian, saat fase total, ketika Bulan tepat berada segaris dengan Matahari, ukuran Bulan akan tepat sama besar dengan ukuran piringan Matahari, dan secara efektif akan menghalangi bagian Matahari yang paling terang dari pengelihatan. Saat itu kita bisa sejenak meninggalkan peralatan filter untuk menatap pemandangan langka itu: Matahari dengan gemerlap koronanya yang bependar ditengah gelapnya langit siang hari. Bagi yang sempat menyaksikan fase total gerhana 1983 dengan mata kepala sendiri, kami ucapkan selamat. Bagi yang saat itu memilih mengurung diri di dalam rumah, jangan khawatir karena pulau Jawa masih akan dilewati Gerhana Matahari Total lagi pada Senin, 12 Januari 2252 nanti. |
